skip to Main Content
Sekolah Yayasan Citra Bangsa di Cinere

Gedung Sekolah Yayasan Citra Bangsa

Proyek sekolah Yayasan Citra Bangsa ini berawal dari adanya rencana pembangunan jalan tol Cinere-Jagorawi dan Depok-Antasari. Posisi sekolah yang strategis di persimpangan dua jalur tol praktis membuatnya terkena penggusuran. Kami pun tergerak untuk membantu pembangunan sekolah Yayasan Citra Bangsa yang baru.

Siang itu, kami berencana mengunjungi sekolah Yayasan Citra Bangsa untuk mewawancarai Bapak kepala sekolah. Mendekati area sekolah, kami melihat banyak cluster townhouse yang sudah ditempati maupun sedang dibangun. Kelak kawasan Cinere ini akan berkembang sebagai lahan subur bagi industri properti sebagai akibat pembangunan jalan tol. Perkembangan ini juga tentunya akan mengakibatkan kenaikan harga lahan. Dapat dibayangkan, sekolah sederhana yang digusur itu pasti akan kesulitan mencari rumah yang baru. Beruntung sekolah ini telah mendapatkan donatur yang akan mewakafkan sebagian tanahnya untuk pembangunan sekolah baru.

Setelah perjalanan satu setengah jam, kami akhirnya sampai di tujuan. Bapak kepala sekolah, Pak Zoelkarnain, menyambut kami dengan hangat. Kami lalu mengajukan beberapa pertanyaan mendasar yang berhubungan dengan kebutuhan kelas dan kegiatan para siswa untuk langkah awal perancangan.

Pak Zoelkarnain bercerita bahwa pada pagi hari, gedung ini digunakan oleh MI Ri’ayatul Athfaal sementara pada siang harinya oleh SMP Citra Bangsa. Meskipun sudah melayani 2 shift tiap harinya, masih terjadi kekurangan ruang karena sekolah ini hanya memiliki 8 kelas. Akibatnya, ada beberapa kelas yang terpaksa harus digabung. Proses belajar pun menjadi terganggu.

Saat wawancara itu pula, Pak Zulkarnaen mengutarakan dilema pihak sekolah yang kekurangan dana namun tidak bisa menaikkan uang sekolah. Saat ini, biaya uang sekolah hanya dikenakan dua puluh ribu rupiah. Jumlah ini jauh dari cukup untuk dapat mendukung operasional sekolah apalagi meningkatkan kualitas fasilitas sekolah.

Dari pengamatan kami, kondisi sekolah-sekolah saat ini tidak mengalami kemajuan dibandingkan dengan kondisi puluhan tahun yang lalu, baik dari kelengkapan fasilitas maupun sanitasi sekolah. Para siswa di sekolah ini juga tidak memiliki minat membaca karena malas mengunjungi perpustakaan yang letaknya ada di lantai dua dan harus berbagi ruang dengan ruang komputer.

Setelah mendapatkan informasi yang memadai, kami pun kembali ke kantor untuk memulai perancangan sekolah. Harapan kami adalah agar sekolah ini dapat diselesaikan sebelum tahun ajaran berikutnya. Selain itu, sekolah yang baru juga diharapkan memiliki nilai lebih dibandingkan sekolah yang dulu sehingga siswanya dapat memperoleh kualitas pendidikan yang memadai.

Semoga harapan ini dapat tercapai.

Back To Top