skip to Main Content

Oleh: Alfe Amazia, Gregorius Surya dan Ario Danar

UNTUK MELIHAT DIBUTUHKAN JARAK DAN CAHAYA

Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang laut tampak, atau  rumput tetangga yang lebih hijau menyebabkan bagai air di daun talas sangat tepat menggambarkan keadaan masyarakat Indonesia saat kini. Keanekaragaman budaya nasional yang melimpah ditambah dengan keunikan dari masing-masing budaya dengan filosofi yang kuat merupakan aset terbesar yang tidak dimiliki Negara lain. Seiring bergulirnya waktu, arsitektur nusantara mulai dibayangi oleh model arsitektur barat yang kebanyakan gagal berasimilasi dengan arsitektur asli nusantara. Ditambah dengan pola pikir bahwa kearifan lokal adalah kuno, roh arsitektur nusantara semakin terkikis. One step backward untuk menemukan kembali jati diri menjadi awal dari sebuah kemajuan akan ditempuh oleh Parametrian, dengan menilik tokoh-tokoh arsitek nasional yang karyanya mencerminkan ciri khas bangsa Indonesia. Adalah Thomas Karsten, Henri Mclaine Pont, Liem Bwan Tjie, Romo Mangun, serta Heinz Frick yang akan menuntun langkah Parametrian dalam perjalanan dari Semarang hingga Kediri untuk mempelajari arsitektur modern yang mempunyai DNA dan roh arsitektur lokal, yang biasa disebut dengan arsitektur neo-vernakular.

Good architect isn’t always be great architect. Bersama dengan keempat tokoh arsitek tersebut Parametrian akan belajar bagaimana menemukan jatidiri arsitektur Indonesia pada umumnya, dan jatidiri arsitektur Parametr pada khususnya.

MENITI GARIS KESEIMBANGAN A long trip tour de java yang akan dilalui Parametrian yaitu diawali dari Semarang, menuju ke Yogyakarta dengan melewati Ambarawa dan Magelang, dari Yogyakarta menuju ke Solo dengan melewati Klaten. Dan diakhiri dengan kunjungan ke Kediri. Perjalanan ini akan dilakukan pada medio Maret 2013.

LIEM BWAN TJIE

Diantara dominasi arsitek Belanda tersebut terselip sebuah nama arsitek kelahiran Semarang, yaitu Liem Bwan Tjie. Pada th. 1910-1924, di Belanda ia belajar pada Sekolah Teknik Menengah (MTS – Middelbaare Technischeschool) sampai Sekolah Tinggi Teknik Delft di Belanda. Sejak th. 1916 ia sudah bekerja pada kantor-kantor arsitek terkenal seperti: B.J. Ouendag, Michael de Klerk, Gulden en Geldmaker dan Ed. Cuypers di Amsterdam (Dikken, 2002:9). Pada akhir tahun 1929, Liem kembali ke Hindia Belanda dan bekerja sebagai arsitek di kota kelahirannya Semarang. Pada th. 1938, akibat dari tuntutan pekerjaan Liem pindah ke Batavia3. Dari th. 1929 sampai akhir hidupnya (th. 1966), ia terus berkarya sebagai seorang arsitek. Puluhan bangunan karyanya tersebar diseluruh Indonesia. Bahkan ia tercatat sebagai salah seorang penggagas Ikatan Arsitek Indonesia (I.A.I.)

liem bwan tjie

THOMAS KARSTEN dan HENRI MACLAINE PONT

Herman Thomas Karsten (Amsterdam, Belanda, 22 April 1884 – Cimahi, 1945) adalah arsitek dan perencana wilayah pemukiman dari Hindia Belanda. Ia adalah putra seorang profesor Filsafat dan Wakil Ketua Chancellor (“Pembantu Rektor”) di Universitas Amsterdam, sedangkan ibunya adalah seorang kelahiran Jawa Tengah. Gaya khas Karsten adalah kepeduliannya terhadap lingkungan hidup dan menghargai nilai kemanusiaan. Dia tidak pernah melupakan kepentingan kalangan berpenghasilan rendah, sesuatu yang jarang ditemui pada orang-orang Belanda masa itu. Semenjak berdirinya Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandung – yang kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung – ITB) Karsten menjadi salah satu pengajarnya. Pada tahun 1941 ia menjadi guru besar. Arsitek generasi pertama Indonesia banyak yang merupakan muridnya. thomas karsten

Henri MacLaine Pont (lahir di Meester Cornelis (Jatinegara), 21 Juni 1885 – meninggal di Den Haag, 2 Desember 1971 pada umur 86 tahun) adalah arsitek populer di Hindia Belanda pada paruh pertama abad ke-20. Pengalamannya dalam menangani berbagai bangunan candi (terutama di Trowulan) membuatnya mengubah konsep menjadi berusaha memodernisasi konsep bangunan tradisional lokal Hindia (Indonesia) yang dikenal sebagai gaya Indisch. Dalam gaya ini namanya dapat disejajarkan dengan Thomas Karsten, seorang arsitek dan penata ruang lingkungan yang juga rekan kerjanya. Kompleks kampus ITB, Stasiun Poncol di Semarang, Stasiun Tegal, dan Gereja Puhsarang, Kediri adalah beberapa dari banyak bangunan rancangannya.

HEINZ FRICK

“Arsitektur dan terutama pembangunan kota, mungkin adalah perusak lingkungan nomor dua”, begitulah frase yang begitu dikenal dari sosok yang dikenal dengan Heinz Frick. Pria yang lahir di Zurich 15 November 1943 ini, bernama lengkap Dr. Ir. Heinz Frick,
Dipl.arch. FH / SIA. Pengabdiannya kepada alam dalam arsitektur ekologis dilatarbelakangi saat beliau akan memberikan seminar tentang arsitektur ekologis. Beliau tahu tentang arsitektur ekologis, tetapi belum pernah membaca dan belajar tentang
hal itu. Setelah mengetahui secara lebih dalam, beliau segera mengubah tujuan dari studio wiraswasta saat itu ke arsitektur ekologis. Berarti sebenarnya pilihan arsitektur ekologis itu muncul dari tugas yang diberikan di Indonesia.

heinz frick

MANGUNWIJAYA

Lahir di Ambarawa, Jawa Tengah, 6 Mei 1929, pria dengan nama Yusuf Bilyarta Mangunwijaya lahir. Romo Mangun, begitu masyarakat mengenalnya, merupakan pribadi yang unik dan berkarakter. Pengalaman dan sikap hidup Romo Mangun ikut membentuk karakter desain arsitekturnya. Sikap hidup yang yang efisien dan ekonomis terhadap nilai suatu bahan tercermin pada keseharian Romo Mangun. Penghargaannya terhadap alam ciptaan sangat mempengaruhi desain arsitektur pada karya-karyanya. romo mangun

Melalui Blog ini akan ditulis  laporan berseri. Parametrian akan meniti seutas garis keseimbangan yang kami yakini pernah dilalui oleh Arsitek-arsitek utama yang telah disebutkan diatas. Enjoy!  

Back To Top