skip to Main Content

Oleh : Dhamarhapsara

Tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU) dengan padatnya jadwal rapat bagi seorang mahasiswa arsitektur dengan segala kegilaan tugasnya merupakan sebuah pertaruhan yang gila.

Belum cukup gila hingga saya gagal dalam studi.

Kegagalan studi cukup membuat saya down kala itu hingga mampu menghilangkan gairah saya dalam mendesain.

Kawan mulai fokus pada TA dan skripsi masing-masing dan seakan menjauh.

Sendiri dalam kekacauan semakin memperparah keadaan

Ya, saya kalah dalam pertaruhan ini…

Diambillah sebuah pertaruhan besar lain demi menemukan sayap baru…

 DSC09418e

Bintaro, 13 Januari 2014

            Masih segar di ingatan saya, dengan disertai hujan pagi itu untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kantor ini. Layaknya pegawai baru, saya datang dengan kemeja dan sepatu rapi. Disambut ramah oleh seorang pria yang kemudian diketahuilah namanya Mas Robbi.

            “Kepagian mas… Ini masih Jam tujuh. Kantor masih sepi…”

            “Oh… saya kira masuk jam setengah delapan mas..” saya menjawab jujur.

            Setelah mempersilakan saya untuk masuk, ia kembali melakukan pekerjaannya, mempersiapkan kantor. Ia office boy, namun kemudian kami lebih mengenalnya sebagai superman kantor ini, karena begitu cekatannya dalam melaksanakan semua pekerjaan.

            Beberapa menit kemudian Sang Principle Architect tiba, Mas Ario. Saya sudah tidak asing dengan wajah dan perawakannya, (tahun lalu saya pernah menggambar beliau dalam bentuk kartun atas permintaan seorang teman). Tak seperti imej boss yang saya tahu, yang dengan setelan kemeja rapi, bersepatu dan berdasi, yang mengendarai mobil ke sana ke mari. Sangat kontras. Sangat sederhana, dengan kaos oblong longgar dan celana pendek serta sepatu sandal. Beliau tiba dengan mengendarai sepeda kesayangannya. Sekalian olahraga katanya.

            Yang menarik dari Mas Ario adalah sejak pertama saya bertemu langsung dengan beliau, saya langsung bisa menangkap dari mimik muka, perangai dan senyumnya, tampak jelas bahwa beliau adalah seorang yang sangat menikmati hari-harinya dalam passion yang dihidupinya. Ada kecintaan disana. Passionate.

            Kami berbincang cukup lama ketika itu. Beliau memperkenalkan apa saja yang akan saya kerjakan selama magang di kantor ini. Berikut budaya kantor ini, beserta karyawan-karyawannya yang ramah siap membantu dan menjawab segala kesulitan dan pertanyaan. Dengan beberapa quotes menarik yang selalu terselip di dalamnya. Itu ciri khas Mas Ario, suka mengajar, membuat perbincangan pagi itu sangat menarik.

Internship, PARAMETRAINEE

paratrainee2

“Melalui magang, kamu akan semakin dikuatkan untuk menjadi seorang arsitek, atau sebaliknya, kamu akan semakin dikaburkan.”

– Ario Danar Andito

            Parametr merupakan satu dari beberapa biro arsitektur yang memperhatikan generasi arsitektur Indonesia masa depan. Tidak banyak biro arsitek yang membuka diri sebagai lahan belajar mahasiswa arsitektur dalam bentuk program magang. Di mana dalam fase magang ini, mahasiswa akan dihadapkan pada budaya kerja yang real yang sangat berbeda dengan kegiatan di dalam kelas. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa akhirnya mendapatkan gambaran aktifitas professional yang akan ia geluti kelak setelah menjadi arsitek. Dan menentukan ke arah mana kelak mereka akan melanjutkan perjalanan.

Di sini, mahasiswa mendapat kurikulum magang. Di dalamnya terdapat beberapa materi basic dalam mendesain, mulai dari coloring, modeling, lay–out-ing, hingga pada menghitung area kalkulasi. Mempersiapkan mahasiswa (dalam hal ini mendidik, mengajar, dan melatih) tetap menjadi tujuan utama program magang di Parametr. Sebagai upaya membentuk citra arsitektur Indonesia masa depan.

Dalam kesehariannya, ‘Magangers’ (begitu kami mahasiswa magang biasa disebut) diikutsertakan dalam proses desain beberapa project yang ada. Tugas kami adalah membantu kegiatan produksi desain. Pada kesempatan lain, magangers juga diberi kepercayaan untuk mendesain, mulai dari konsep, hingga eksekusi produksi, dengan dipandu oleh principle pastinya.

LEMBAR 1LEMBAR 3LEMBAR 4LEMBAR 6

           Mengikuti presentasi desain dengan klien merupakan pengalaman menarik tersendiri, mengamati Sang Arsitek memaparkan konsep desain kepada klien. Menangkap  tips ‘n trick dalam menarik hati klien. Mencermati berbagai pendekatan yang dilakukan. Selain itu, magangers juga dipercaya untuk bertanggungjawab penuh atas partisipasi perusahaan dalam sayembara desain. Dengan dipandu principle kami berkesempatan ikut mendesain mewakili Parametr dalam sayembara nasional.

Parametr dan Parametrian

parametrian1 copy

            Parametr Architecture, banyak hal yang menjadi alasan mengapa nama tersebut diambil untuk melekat di kantor ini. Namun saya lebih tertarik pada ke-ramah-an kantor ini. Terletak di tengah perumahan di kawasan Bintaro, sangat menyatu dengan sekitar. Homie dan so friendly. Sangat mendukung untuk mewadahi proses kreatif kami Parametrian.

            Parametrian adalah sebutan bagi kami, insan desain yang berlindung di bawah atap Parametr. Kami terikat akan beberapa peraturan yang secara simultan membentuk karakter kami. Salah satunya adalah larangan mengenakan earphone di jam kantor yang membentuk kami menjadi ramah dan rela bergantian berbelarasa mengantri mengisi playlist untuk seisi kantor. Suka tak suka harus mendengar lagu yang sama (yang disukai kawan sebelah). Bagaimana pun arsitektur harus peduli pada sekitar. Bukan arsitektur yang autis. Mereka sangat luarbiasa ramah, membuat betah dan krasan.

Arsitektur Adalah Sebuah Proses Kreatif

proses2 copy

“Dalam berarsitektur, proses jauh lebih menarik daripada hasil.”

–Ario Danar Andito

            Pastilah seluruh dunia akan setuju bila all of creative works need a good taste. Dan seluruh dunia mempertanyakan dimana mereka dapat mendapatkan good taste. Kebanyakan berpendapat bahwa good taste itu alami muncul dengan sendirinya pada sebagian orang terpilih. Mereka berkata itu bakat. Bersifat lahiriah dan mutlak. Namun tahukah bahwa tak ada satu pun arsitek terkenal dunia ini yang sejak kecil berkeinginan menjadi arsitek dan dididik sejak kecil secara khusus untuk menjadi arsitek.

            Good taste is a product of a long long process. The process consists of thousand numbers of a ‘trying and error’ process that be repeated over, over, and over again. Tidak ada rumus lain yang lebih tepat dalam menggambarkan sebuah proses kreatif. Sehingga penekanannya ada pada proses bukan hasil. So, if you’re not good enough, just do this one thing over and over… and over again.

A Struggling for Mistery

proses1 copy

“Jika kamu merasa kurang, namun ingin setara atau mengejar yang lain, lakukanlah usaha dan kerja keras dua hingga tiga kali lebih banyak dari yang lain.”

-Ario Danar Andito

            Seorang anak yang tumbuh dan besar di daerah sedang menatap dunia metropolitan dengan luar biasa gentar. Minder, merasa sangat amat kecil, tanpa daya, dan tak tahu apa-apa. Itu adalah apa yang saya rasakan.

            Ketika tiba di Parametr, saya dihujani berbagai macam pengetahuan umum arsitektural oleh Mas Ario, dan ironisnya, tak ada satu pun bahasan yang saya  kenal, meskipun sudah 4 tahun saya belajar di bangku kuliah arsitektur. Rasanya seperti saya adalah mahasiswa arsitektur terbodoh, dan 4 tahun saya di kampus adalah sia-sia. Dan dunia arsitektur adalah sangat luas, terlalu luas.

            “Begitu juga yang saya rasakan ketika menatap Jakarta dan Bandung dulu, merasa kecil dan minder.”, Mas Ario bercerita.

            “Itulah mengapa, sampai kapan pun, mahasiswa daerah tidak akan mampu mengalahkan mereka yang di kota, karena memang berbeda. Dibutuhkan usaha yang lebih jika ingin setara”, lanjut Mas Ario.

            Dunia arsitektur memang terlalu luas untuk dapat digenggam, meskipun kita memang kecil namun bukan berarti kita berhenti untuk mencoba menggenggam. Begitu pikir saya. Dan sampai kapan pun, waktu tak akan cukup bagi saya. This is never ending process.

A Never Ending Cycling

582469_10200957735450863_1011499170_n

“Hidup itu seperti mengendarai sepeda, untuk menjaga keseimbangan, kau harus tetap bergerak. mengayuh.”

-Albert Einstein

            Sering kali kita kehilangan momentum dalam mengerjakan sesuatu, dan seakan sangat berat untuk bangkit lagi. Ya, itulah yang saya alami ketika dua kali dosen koordinator menyatakan saya tidak lulus mata kuliah studio. Dua kali! Bayangkan saja, itu sudah cukup untuk membuat saya bosan dengan kuliah. Cukup untuk membuat saya kehilangan gairah dalam mendesain. Dan betapa beratnya usaha untuk bangkit kembali, jangan ditanya.

            Keseharian mahasiswa arsitektur adalah lembur, asistensi dan refisi, begitu berulang-ulang yang kadang membuat kita bosan. Namun memang bagitulah dunia kita yang kelak akan membentuk kita. Jika kita tetap ingin terus bergerak maju, maka kayuhlah, mengayuh memang kegiatan yang berulang-ulang dan mungkin membosankan, namun tiada cara lain untuk sampai ke tujuan. Jika berhenti maka akan kehilangan keseimbangan dan jatuh. Oleh sebab itu dibutuhkan cinta dalam mengayuh. Yang membuat seseorang sangat menikmati setiap gerak kakinya mengayuh. It is passion, when u found this thing, life would be like a game. Interesting, Challenging, and very fun. And when u playing a game u love, u will never feel tired.

            Cukup sederhana dalam mendefinisikan sebuah kecintaan bagi Mas Ario. beliau sangat menggilai sepeda.

            “You can’t buy the happiness, but you can buy a bike. That’s pretty close.”

-Ario Danar Andito

 me1 copy

Meski terlalu singkat, sangatlah menyenangkan di sini.

Setiap hari merasa hidup dan bersemangat, berbeda ketika di kampus.

Mengalami proses yang luar biasa.

Sepertinya saya menemukan apa yang saya cari dalam pertaruhan kali ini.

Dan masih menunggu pertaruhan-pertaruhan lain…

Langit masih terlalu luas…

Terimakasih Parametr dengan Parametriannya…

Maaf tidak bisa lebih lama bersama kalian… 🙂

Back To Top