skip to Main Content

gyrass

Terlibat dalam proses desain dari awal hingga akhir adalah keinginan setiap mahasiswa magang, mengetahui secara detil step by step sebuah karya diproses. Disini saya beruntung bisa mengalaminya, meskipun pada akhirnya saya harus kembali melanjutkan studi dan melepas proses ini, tapi saya yakin niat baik didalamnya tidak terputus dan akan mendapat jalannya suatu waktu nanti..

Dimulai sejak 10 Juli 2013, saya resmi berstatus mahasiswa magang di Parametr. Studio arsitek yang sebelumnya tidak pernah saya dengar, bukan karena studio ini kecil atau tidak terpublikasi dengan baik, memang saya yang tidak tahu apa-apa tentang dunia arsitektur di Indonesia.

“dunia arsitektur itu kecil, apalagi di Indonesia” – Joffi Febriando

Kalimat itu terucap saat teman-teman di Parametr membahas tentang attitude dan keprofesian sebagai arsitek. Salah satu kalimat yang akan menjaga saya untuk terus belajar tentang arsitektur, tidak hanya tentang ilmu teori tetapi juga bagaimana bersikap sebagai seorang arsitek.

Tentang proyek yang saya geluti dari awal adalah proyek CSR Parametr membangun sebuah sekolah untuk MI dan SMP yang terkena penggusuran akibat pembangunan jalan tol. Beruntung Yayasan sekolah tersebut, Yayasan Citra Bangsa bertemu dengan Bapak Hadinoto yang memang ingin mewakafkan tanahnya untuk tujuan sosial dan Parametr mendapat kesempatan untuk ikut menyumbang “harta”nya, dan saya mendapat kesempatan untuk belajar hal yang lebih dalam dari arsitektur..

“arsitektur sudah harus ke arah memberi, beyond architecture itu kesana..” – Ario Danar Andito

Karena tujuan pembangunan ini adalah untuk murid-murid yang nantinya akan diwadahi kegiatannya bersekolah dan beraktifitas, maka perlu ada komunikasi yang lebih bersama anak-anak sekolah tersebut. Kami datang dan merasakan aktifitas mereka, mencari tahu apa yang mereka suka dan mencoba untuk mengetahui keinginan dan potensi sebenarnya yang mereka miliki.

Disini saya jadi belajar tentang bagaimana sebuah desain akan terus berevolusi dan berkembang, sifat saya yang seorang mahasiswa deadliner dan sangat tidak suka hal-hal bersifat revisi, dipaksa harus bisa ikut bergerak dengan cepat. Saya hampir kehabisan nafas untuk ini..

proses sebuah gambar tidak selesai hanya saat gambar itu selesai, bisa jadi langsung berubah sesaat gambar itu dipelajari lagi, saya masih harus banyak belajar tentang arsitektur..

Sedikit keluar dari cerita sekolah, saya mengutip kalimat dari pengantar buku relativitas karya Adi Purnomo,”kenyataan sebuah ruang haruslah dialami secara langsung. Hal ini menjelaskan mengapa representasi yang paling mendekati sebuah ruang adalah maket”.

“saya suka banget maket” – Ario D.A.

Saya juga..

Karena untuk merepresentasikan sebuah ruang untuk aktifitas manusia terutama anak-anak tidak akan cukup hanya dengan paparan media dua dimensi, perlu sedikit intip kedalam ruang dan ikut menerka-nerka suasana apa yang dia berikan. Dengan kesenangan itu saya kembali medapat nafas untuk terus ikut menggerakkan proyek ini.

maket final

Bukan hal sulit sebenarnya untuk memberikan yang terbaik yang kita bisa, namun kadang yang menghambat saya melakukan itu adalah kelelahan saya sendiri melakukan hal yang sama berulang-ulang. Semua mahasiswa magang mungkin juga memiliki pandangan yang sama, tentang pekerjaan yang mereka terima melulu hanya itu dan itu lagi, touch-up gambar, slide presentasi, dan hal yang kita anggap minor.

“aa bukan siapa-siapa, belajar dari siapapun”- Ella Nurlaela

Saya terjebak dalam pemikiran itu sebelumnya, tapi seperti yang Ibu saya katakan, siapa saya?

Padahal dengan mengulang sesuatu akhirnya kita tahu bahwa yang sebelumnya kita kerjakan belumlah sempurna, jangankan sempurna, mungkin dibilang layakpun tidak. Suatu waktu saya belajar kalau proses mengulang berarti kita menghargai tubuh ini, karena pengalaman yang dia rasakan terus menerus akan menjadi empiri yang tidak akan hilang sampai kapanpun.

Mengenai lembur..

Tidak perlu takut lelah, Tidak peduli waktu telah larut, saya hanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan belajar ini. Toh saya menjalani ini tidak sendiri, semua juga berusaha memberikan yang terbaik yang mereka bisa.

“malam memberikan kejujuran” – Rahmat Hidayat

Melewati malam di Parametr adalah bagian lain yang sangat menyenangkan, mendengar berbagai hal yang dibicarakan dan ikut larut dalam kebersamaan.

Tidak terasa sudah 3 bulan, 10 Oktober 2013 adalah hari terakhir saya disini..

Sekolah Yayasan Citra Bangsa telah sampai pada penyerahan dan sumpah wakaf dari Bapak Hadinoto kepada pihak yayasan pada tanggal 5 Oktober lalu. Parametr telah berusaha menghimpun gagasan demi gagasan kedalam sebuah bentuk rancangan desain, namun proses ini tidak selesai sampai disini, bahkan sampai bangunan terbangun masih banyak yang perlu dibenahi dan ditingkatkan untuk pengembangan pendidikan sekolah ini.

Sayapun akan kembali melajutkan kewajiban saya sebagai mahasiswa, menyelesaikan studi agar kemudian bisa turun langsung membantu dan mengembangkan masyarakat. Kalimat yang masih terlalu besar untuk saya, apakah semua proses yang saya alami disini akan cukup? jawabannya jelas tidak.

Tidak pula saya hanya berhenti sampai disini..proses magang ini telah banyak memberikan saya pelajaran dan itu akan menjadi satu pondasi kuat untuk nantinya turun langsung ke masyarakat.

Terima kasih Mas Ario, Mas Harun, Mas Joffi, terimakasih telah banyak membimbing dan mengarahkan saya untuk terus berada di jalur ini. Teman-teman lain, Mas Tomi, Mas Supar, Ka Anita, Mas Bembi, Mas Santos, Bang Ali, Mas Andri, Mas Pandu, Mas Rian kecil, Mas Rian besar, Mba Sari, Mba Dini, Mba Lenggo, Mba Fitri, Mba Suci, Mba Siki, terimakasih kehangatannya selama saya magang disini 🙂

Back To Top