skip to Main Content
13

Studio SA_e visit to Jakarta Box Tower & GeTs Architects

 

 

Kamis, 17 Januari 2019 Wong SA_e  melakukan kegiatan yang sudah menjadi tradisi di Studio SA_e dengan tujuan bisa saling mengenal satu sama lain antar sesama satu frekuensi di dunia Arsitektur. Disamping itu kegiatan ini juga bisa saling bertukar pikiran dan menemukan hal yang baru.

Rangkaian ekskursi SA_e dimulai dengan kunjungan ke Jakarta Box Tower di bilangan Gambir, Jakarta Pusat dipandu oleh Fajar Setiawan, salah satu senior arsitek dari DCM Jakarta yang menjelaskan bangunan Jakarta Box Tower dari segi arsitektur dan teknisnya. Namun sebelum itu, kami disambut terlebih dahulu oleh tim K3 yang bertugas untuk memberi arahan tentang keselamatan di lapangan, mulai dari titik kumpul dan jalur evakuasi ketika keadaan darurat, hingga letak toilet, musholla dan titik-titik penting lainnya.

Pengarahan dari tim K3 soal safety instruction

 

Jakarta Box Tower berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 6000 meter persegi dengan fungsi bangunan sebagai bangunan kantor sewa dan gedung parkir serta fasilitas pendukung lainnya termasuk restoran di area rooftop podium bangunan. Bangunan ini berada di area Ring Satu Kota Jakarta yang diatur oleh aturan perencanaan kota Jakarta terhitung dari area Monumen Nasional, sehingga tinggi bangunan dari Jakarta Box Tower tidak melebihi tinggi Monas agar tidak mengganggu landscape kota dan sebagian site Jakarta Box Tower ditujukan untuk pedestrian. Jakarta Box Tower nantinya digunakan juga sebagai lokasi kantor MRT Jakarta nantinya.

 

Jakarta Box Tower merupakan salah satu high rise building dengan tinggi mencapai 32 lantai. Lantai 2 sampai 7 dari bangunan ini merupakan podium yang difungsikan sebagai gedung parkir, namun pada lantai 2,4, dan 6 digunakan sebagai area lifestyle, kemudian lantai 8 berupa rooftop podium yang difungsikan sebagai restoran dengan view landscape kota Jakarta yang menarik, dan lantai 8 hingga lantai 32 difungsikan sebagai bangunan kantor sewa. Site dari bangunan ini sangat potensial dalam memanfaatkan view terbaik yang dapat melihat langsung ke arah Monas dari ketinggian, maka tidak salah lagi mengapa Jakarta Box Tower banyak menggunakan material kaca di bagian towernya, dan penggunaan fasad secondary skin di bagian podiumnya dengan mengambil motif yang terinspirasi dari bentuk Ondel-ondel dan Abang None untuk menguatkan nilai lokalitas pada bangunan ini.

Salah satu sisi fasad bangunan dengan secondary skin berbahan metal yang terinspirasi dari bentuk Ondel-ondel dan Abang None.

 

Proyek Jakarta Box Tower ini dimulai sejak tahun 2012, namun sempat terhenti pada proses TPAK selama kurang lebih dua tahun dikarenakan kondisi tanah yang kurang baik sehingga basement yang tadinya direncakan 3 lantai menjadi hanya 2 lantai dan mengakibatkan beberapa perubahan besar pada aspek desain dan teknis.  Jakarta Box Tower didesain dengan konsep multifasad, maksudnya adalah fasad dari keempat sisinya (depan-belakang-kanan-kiri) dapat dianggap sebagai muka bangunan ketika dilihat dari luar bangunan. Tetapi terdapat beberapa point of interest pada fasad Jakarta Box Tower adalah beberapa box yang ditumpuk lalu di rotate beberapa derajat secara acak di salah satu sisi bagian podium bangunan. Bagian box ini akan menjadi suatu point of interest dengan bantuan rekayasa pencahayaan buatan agar terlihat lebih menonjol.

 

Kemudian pada bagian lobby di lantai dasar, dindingnya dibatasi oleh kaca-kaca besar dan dinding marmer yang menguatkan kesan mewah dan prestige pada bangunan ini. Sistem resepsionis konvensional pada bangunan Jakarta Box Tower akan digantikan dengan system menggunakan mesin tiket yang akan mengantarkan penggunanya menuju lantai atau ruangan yang akan dituju di dalam bangunan ini.

 

Salah satu sudut podium Jakarta Box Tower yang menjadi point of interest dengan permainan rotasi massa bangunan.

 

Fasad bangunan yang mengalami penarikan massa di beberapa titik untuk menguatkan kesan “boxy” pada bangunan.

 

View dari ruang kantor sewa di Jakarta Box Tower.

 

Pemandangan Monas dari salah satu ruang kantor gedung Jakarta Box Tower.

 

Lobby lantai dasar yang sedang dalam tahap pengerjaan

 

Rencana jalur pedestrian yang dimaksudkan untuk akses pejalan kaki dari jalur pedestrian eksisting, sehingga batas antara bangunan dengan lingkungan sekitar menjadi bias.

 

Rencananya, di atas kolam ini akan diletakkan sebuah patung karya seniman bernama bu Rita Widagdo.

 

Rangka aluminium di bagiian depan bangunan yang nantinya akan diberikan tanaman rambat untuk memberikan kesan bangunan agar lebih hijau.

 

Salah satu interior lobby area kantor sewa dari Jakarta Box Tower.

 

 

Setelah berkunjung dari J Box Tower, rangkaian ekskursi kali ini Studio SA_e mengunjungi Dee Studio yaitu tempat kerja dari Studio GeTs kepunyaan Gerard Tambunan.

Studio Arsitek yang terletak di Jakarta Selatan dengan luas lahan 426 m2, merupakan proyek renovasi dari rumah yang sudah lama terbengkalai, dengan Principal Arsiteknya Gerard Tambunan dan Sang Istri sebagai pelaku bisnis e-Commerce, menjadikan bangunan ini sebagai Dee Studio GeTs. Beberapa material dan bagian ruang dari bangunan lama tetap dimanfaatkan. Tidak seperti bangunan dengan fungsi kantor pada umumnya, Studio ini mencoba menyuntikan konsep homey office. Konsep tersebut diwujudkan dari kebiasaan berkumpul, sebagai alasan merancang ruang-ruang yang multifungsi dan dapat dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul dengan kegiatan yang beragam.  Konsep Homey office juga diterjemahkan dengan visual yang saling berhubungan disetiap ruang.

Ruang Kerja Arsitek  yang berjumlah 7  orang dan  Ruang Principal

 

Ruang Terbuka antara Ruang Kerja Arsitek dan Ruang Principal dan Ruang Terbuka

 

Ruang Makan 

 

Ruang makan, ruang yang paling pertama terfikirkan dalam perancangan Dee Studio GeTs.Ruangan yang dirancang terbuka yang bersebelahan dengan open space. Ruang ini sangat multifungsi, disamping bisa buat diskusi, meeting internal, dan pastinya sebagai ruang makan dan tempat berkumpulnya Arsitek dari GeTs sendiri.

“Limitation in design process leads to a strong concept of space making in order to create an enhancement in life quality.” -Gerard Tambunan-.  GeTs, selalu berusaha melakukan inovasi yang menyesuaikan situasi dan keterbatasan yang ditemukan. Sederhana, nyaman, kontekstual dengan lingkungan adalah perhatian GeTs dalam mendesain. Karena GeTs percaya bahwa desain arsitektur yang baik akan meningkatkan kualitas hidup juga. Itulah sebabnya GeTs dalam merancang upaya unutuk menciptakan kualitas ruang pengguna, lingkungan, dan ruang.

 

Akses Pintu Masuk Ruang Kerja Sang Istri (Diana Pardede)

 

Selain Studio Arsitek, di Dee Studio GeTs juga terdapat ruagan istri Gerard Tambunan yang kesehariannya sebagai e-Commerce.

Ruang Kerja Ruang Kerja Diana Pardede sebagai e-commerce

 

Nah, sekian dulu rangkaian ekskursi SA_e kali ini, terimakasih kepada mas Fajar Setiawan dan rekan-rekan yang telah mengijinkan dan mengajak kami berkeliling J Box Tower dan juga mas Gerald Tambunan beserta rekan-rekan GeTs Architects yang telah menyambut hangat kami Wong SA_e di Dee Studio. Dan terima kasih juga kepada para pembaca 😊

Sampai bertemu kembali pada kegiatan Ekskursi kita selanjutnya, nantikan cerita kita yang lebih menarik lagi,

soon…..

 

Writer & Photo Credit:   Marhama Diba MagangersSA_e #2, Desy Pertiwi MagangersSA_e #2, Muhammad Zaky Rizal MagangersSA_e #3, Cahyo Priam MagangersSA_e #3.

 

 

 

Back To Top